Selasa, 19 Juni 2007
Menjelang Subuh
rambut ini teruntai dingin
bersama mataku hening
dalam hujan, menanti angin
membawa mimpi-mimpi lain
tentangmu yang dulu bening
Makassar, 19 Juni 2007
puisi di atas telah mengalami perubahan
tersadarkan oleh logika seseorang
Jumat, 08 Juni 2007
dua sajak lama yang dipublikasikan, lelah menunggu balasan dari seseorang
Bunga biru: isyarat, kejutan
Jangan tunggu kejutan dariku
Tapi beri jutaan kejutan untukku
Bayangan, kenangan, ingatan dan semua tarian itu
Mereka tak pernah lupa datang mengadu
Tentang rasa yang tak dimiliki
surga, neraka, setan, malaikat
Ataupun langit ketujuh
Karena terbiasa mencuri hari dan malam masa lalu
Jangan tunggu isyarat dariku
Tapi beri isyarat untukku
Mereka dan ibumu, serupa taman bunga biru
Tak pernah lupa mengobrak-abrik jurang jiwaku
Mengambil satu persatu yang tumbuh
Sebab terlahir tanpa kilau, lusuh, peluh, keluh
Karena aku abai akan mata dan suara itu
Mereka dan ibumu, kini juga kau
Serupa taman bunga biru
Aku hilang, lupa ingatan berulang
Berlanjut dan tak ada jalan pulang
Jangan. Jangan kalian ikut sesat dan menggenang
Cukup beri kejutan dan isyarat untukku
Biarkan tarian taman bunga biru mengantarku
pulang!
Makassar, April 2007
Ratapan dasar laut
Adapun dua rusa yang berjalan di aliran lahar
Ataupun gerombolan ikan kecil di atas lumba-lumba
Menara ribuan tahun dan rumput alang di pinggiran
Serta petir laksana ranting-ranting tua menyala
Rindu. Masihkah dapat kulihat lagi ?
Kini Bumi seperti jurang saja
Menjadikanku sebagai alas terbawah
Pun
Palung-palung besi menusuk hampir sekujur tubuh
Mengambil sebagian darah kemilau
Yang sejak berabad mabuk dan luyu
Ayo, katamu, serupa induk merayu
Membawaku larut dalam candu dungu
Waktu tersisa hanya segulung ombak, sekepal air
beserta nyanyian lacur badai musiman:
Oh. Wahai kau para khalifah kelam dan mulia
Menurut seluruh rekan sejawat di atas sana
Jangan tumpahkan segala pecut dalam mata
Beserta seluruh isi aliran darahmu dusta
Di katup tubuh, rambut dan akar
Yang telah lama dianugerahi luka
Para penari berdatangan bagai pasar malam
hanya membawa, meninggalkan kotoran
dari taman lain ke taman karang
berputar menyelam bak gasing kehausan
Permisi, katamu, sembari meludahi wajahku
Tersenyum
Meraba di seluruh pori ku
Semisal tanaman rambat yang tumbuh subur
Sinar kuning yang melingkar labirin
Kapal karam dan serangga lapuk berderai
Kepak liar menjelma tangga putar gaib
Serta aku yang terbiasa mabuk terlilit
Rindu. Masihkah dapat kulihat lagi?
Makassar, April 2007
Senin, 04 Juni 2007
: m.aan mansyur
Anggap saja,
kau mengenalku di suatu masa lalu
walau ragu
meski kau memang mengenalku
Tangga kedua telah kumasuki saat itu
Setinggi hidup dalam bulanku
Seperti hari yang haru
Kemarin, tangga pertama menyambutku
Namun tubuhmu mendiamkanku berlarut
tentu
Langkah malu
Sepanjang bulan dan matahari baru
Menyisipkan gelap di setiap saku baju
Menghapus bulir yang menetap kaku
di sudut mata keluhku
Mengenang kau kala berubah guru
Membacakan puisi dan cerita dari waktu
Ujung lidah menebar wangi harum
Menyusupi telinga menyusuri jasadku
Membangunkan darah tulang dagingku
Membagikan mimpi indah dari buku
"Anggap saja, kau mengenalku", katamu
saat itu
Makassar, 2 Juni 2007
Senin, 28 Mei 2007
Sebuah rahasia dan taman
Wajahmu yang lebih indah dari warna, sadarkah?
Setiap lekuknya meraba pikiranku yang telah dihapalnya
Membawanya ke hamparan es yang lebih tinggi dari awan
dan memeluknya erat
Tinggal jasadku yang kau buang di lelehan
Apa selalu seperti ini akhirnya
Semua taman bunga penuh warna mulai memerah
Membuang gelap penutup segala pesona
Sisa yang tidak ingin terlihat dari jaring masa
Betapa kau telah jauh untuk jelaskan semua kini
Perihal aku yang tak kenal diri sendiri
Atau tulisan yang tak lagi berarti
Semua taman bunga penuh warna menyimpan rahasia
Terpasung sambil terus menunggu di dalamnya
Menanti penyelinap memberi berita
Perihal yang tak pernah sampai padanya
Hanya air mata jasadku terus bercerita
Di aliran es
sepanjang terang selebar gelap
Makassar, Maret 2007
Kamis, 10 Mei 2007
Delapan Puluh Enam Malam
Bibirmu berdebar-debar demam
Demikian larut,
sesekali deburmu berdendang
Karena langkah yang kini datang
mendekap terbayang
Seterusnya hingga delapan puluh enam malam
Sedang debatmu dengan bayangan
Tentang siapa yang salah berdandan
Atau antara dada dan selangkangan
Bukan!
Bukan pula salah debu bergoyang
Yang membungkus jejaknya di hari petang
Dan kau pun tetap meracau
Lidah menjulur kacau
Demikian khidmat,
terhempas
lalu mengucur
Bersama udara yang terlantar kaku
Lantas percakapan bergumul lumut
Yang terkubur jutaan detik lalu
Dan pernah hinggap di dinding malammu
Tak inginkah kau gali?
Mencecapnya di bibir dan lidah mabukmu
Lantas mengejutkan mata kabung itu
Antara delapan puluh enam malam
Tawa yang membungkus tulisan
saat kau pulang
Jangan kau kurung dalam pangkuan
Pun engkau pasti mengubah haluan
Makassar, 18 April 2007
Dari Bibir Pantai Lemo
Membekuk dan terbelalak
Kata-kata sepanjang gelap
seriang kucing galak
Terbayang dermaga berlantai hitam
tepinya terkoyak
Barisan pohon menebar debar
ingin mendekap
Rentang sayap pasir selimuti
seluruh jejak
Oh, awan. Jangan engkau turut berkarat
Kalang kalap mengobrak
Makassar, Desember 2006
Belati
Di dasarnya menyimpan sejati
Ujungnya menanam mati
Gagangnya kekal menanti
Uluran jemari batin pasi
Yang haus darah pelangi
Langkah belati
Seperti seorang lelaki di malam hari
Bergegas mengganti pengantar mimpi
dengan fasih
Semerdu ancaman berapi
Makassar, Agustus 2006
